Pesona, Sejarah Istana Maimun, Sisa Kejayaan Kesultanan Deli dan Meriam Puntung di Medan

Kalau kamu berwisata ke Medan, jangan lupa untuk mampir dulu di Istana Maimun. Istana cantik yang menjadi salah satu ikon kota Medan ini dulunya merupakan Istana dari Kesultanan Deli. Hingga kini, bangunan bersejarah ini masih tetap berdiri tegak dan utuh di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.


Istana ini dibangun pada masa Sultan Kerajaan Deli, Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, bangunan dua lantai ini berdiri di atas tanah seluas 2.772 m2 . Terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian induk, sayap kiri, dan sayap kanan, dengan 30 kamar.  Pembangunannya  menghabiskan dana sekitar satu juta gulden Belanda pada tahun 1888.

Istana Maimun adalah istana Kesultanan Deli yang merupakan salah satu ikon Kota Medan, Sumatra Utara, terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Aur, Medan Maimun, Medan.

Didesain oleh arsitek Capt. Theodoor van Erp, seorang tentara Kerajaan Belanda yang dibangun atas perintah Sultan Deli, Sultan Ma'moen Al Rasyid.[3] Pembangunan istana ini dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan[1]. Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan.

Jendela dan pintu yang berbentuk tinggi serta lebar di istana ini merupakan pengaruh dari arsitektur Belanda. Tapi di beberapa pintu lainnya juga dibentuk dengan gaya arsitektur Spanyol. Di bagian atap terdapat lengkungan setinggi 5-8 meter yang menunjukkan pengaruh arsitektur khas Islam. Lengkungan ini terkenal dengan sebutan pilar lengkungan Persia dan populer di kawasan Turki, Timur Tengah serta India.
Bangunan Istana Maimun ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu Bangunan Induk atau Balairung, Sayap Kanan, dan Sayap Kiri. Istana memiliki panjang 75,5 meter dan ketinggian 14,4 meter serta halaman yang begitu luas mencapai 4 hektar.

Singgasana Kesultanan Deli berada di Bangunan Induk seluas 412 meter persegi. Tahta singgasana berwarna kuning sesuai dengan warna bangunan istana Maimun. Warna ini disebut sebagai warna kebesaran oleh suku Melayu. Hingga saat ini, singgasana tersebut juga masih digunakan untuk upacara khusus seperti penobatan sultan atau saat perayaan hari besar lainnya.
Perabotan lainnya seperti meja, kursi, dan lemari dibuat dengan gara Eropa dengan detail yang rumit. Di bagian dalam istana, setiap sudut juga dihias dengan detail yang sangat cantik dan unik sehingga membuat istana Maimun semakin terlihat kemegahannya. Lampu gantung di dalamnya memancarkan cahaya yang elegan dan memperindah tampilan interior istana ini.

Material untuk membangun istana ini, mulai dari lantai, marmer, hingga teraso diimpor langsung dari Spanyol dan Belanda. Yang lebih menarik lagi adalah desain arsitekturnya yang unik karena merupakan gabungan dari beberapa budaya berbeda seperti Melayu, Islam, Timur Tengah, India, dan Eropa.


Istana Maimun ( dulu ditulis Maimoon ) merupakan istana Sultan Deli yang menjadi objek wisata budaya yang terkenal di Kota Medan. Pengunjung dapat dengan mudah mengunjunginya  karena berada di dekat pusat Kota Medan, tepatnya di jalan Brigjend. Katamso.  Untuk mencapainya, kita tinggal memilih naik angkutan umum, taksi, atau kendaraan khas kota Medan ini, yaitu bentor (becak motor).

     Bentuk Istana Maimun dirancang sangat indah, dengan pengaruh arsitektur Eropa dan Timur Tengah. Bahkan, sebagian material bangunan didatangkan khusus dari Eropa, seperti ubin marmer dan teraso. Saat memasuki ruang tamu (balairung) istana, ada Singasana kuning dengan lampu Kristal sebagai penerangannya. Ini juga yang menjadi salah satu bukti autentik bahwa pengaruh Eropa yang sangat kuat.

Begitu pula dengan perabotan istana, misalnya kursi, lemari, hingga pintu dorong menuju balairung. Ruangan ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Sekarang, ruang tamu ini digunakan sebagai tempat sultan sembah bakti dari para pengikut dan kerabat sultan pada hari raya agama Islam. Tak heran, jika ruangan ini termasuk yang terluas di istana Maimun, yaitu 412 m2 .

      Arsitektur gaya belanda tampak pada pintu serta jendela yang lebar dan tinggi di seluruh bagian bangunan. Pengaruh Timur Tengah terlihat pada lengkungan Persia yang berbentuk perahu terbalik, seperti yang banyak dijumpai dikawasan Timur Tengah, Turki, dan India. Arsitek yang mendesain istana memang didatangkan langsung dari benua biru, Italia. Namun, bangunan ini tidak meninggalkan ornament lokal. Bangunan khas karo ada di luar ruangan, sesuai dengan asal – usul sultan Deli I yang menikahi putri Kerajaan Sunggal.

Saat berkunjung ke Istana Maimun, mampirlah ke sebuah bangunan kecil khas Batak yang terletak di sisi kanan istana. Bangunan beratap ijuk ini menyimpan sebuah meriam legendaris yaitu meriam Puntung.


Menurut legenda, meriam ini adalah jelmaan dari adik Putri Hijau yang cantik jelita. Suatu ketika Putri Hijau menolak pinangan Raja Aceh. Raja yang tidak terima dengan penolakan tersebut akhirnya memutuskan untuk menyerang Kesultanan Deli. Mambang Khayali, adik Putri Hijau akhirnya menjelma menjadi meriam demi mempertahankan istana. Tapi karena terus menerus menembak, laras meriam menjadi panas dan akhirnya pecah jadi dua bagian.

Kini, meriam tersebut disimpan di bangunan kecil tersebut. Hingga kini masih ada beberapa orang yang percaya bahwa meriam ini mampu membawa berkah. Konon siapa saja yang memiliki harapan dan menaburkan bunga-bunga di atas meriam ini pada hari-hari tertentu, harapannya tersebut akan terwujud.

Nah, menarik keindahan arsitektur, sejarah, dan juga legenda yang tersimpan di istana ini? Jadi, rugi sekali kalau kamu sampai nggak menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri keindahan istana peninggalan kejayaan Kesultanan Deli ini. Yuk, langsung berangkat ke Medan

Sumber : traveling.indonesiaflight.id

, , , , , , ,

1 comment:

  1. saya mohon izin mengambil foto ini untuk penelitian. boleh kah?

    ReplyDelete

Penayangan